“Mencicil Harapan”, Cara Bima Arya Menjaga Kepercayaan Publik

Share BerkabarMedan

Medan – “Leaders are dealers of hope. Pemimpin itu agen harapan. Tapi harapan tidak mungkin dipenuhi sekaligus. Harus dicicil.”

Bagi dia, menjaga kepercayaan publik bukan soal janji besar, melainkan menghadirkan perubahan kecil yang terasa sejak awal.

Paparan tersebut disampaikan Bima Arya dalam acara bedah buku “Babad Alas” di Gedung Digital Learning Center USU, Kamis (30/4/2026). Kegiatan itu turut dihadiri Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas, Rektor USU Muryanto Amin, serta ratusan mahasiswa.

Dia bercerita, sejak minggu pertama menjabat Wali Kota Bogor, langkah-langkah konkret langsung dilakukan—menata titik kumuh, merapikan angkutan kota, hingga membangun ruang publik.

“Sedikit-sedikit harus terlihat. Kalau setahun kerja tapi tidak terasa, selesai,” ujarnya.

Namun, strategi itu tidak berdiri sendiri. Bima menegaskan, semua berawal dari ideologi yang kuat. Tanpa pijakan nilai, pemimpin akan mudah goyah dan tidak konsisten dalam mengambil keputusan.

“Kalau tidak punya ideologi, di sini A, di tempat lain bisa B,” katanya.

Di lapangan, lanjutnya, tantangan terbesar justru datang dari tarik-menarik kepentingan. Ia mengakui, tekanan bisa datang dari berbagai pihak. Karena itu, pemimpin harus mampu mengelola kepentingan sekaligus menjaga batas.

“Awalnya saya tolak semua, bahkan oleh-oleh kecil. Tapi lama-lama saya belajar membedakan mana ketulusan, mana kepentingan,” ujarnya.

Selain itu, ia menekankan pentingnya mengelola dukungan secara seimbang, antara akar rumput, kelas menengah, dan elit. Ketiganya, kata dia, menentukan keberlanjutan kepemimpinan.