Nias — Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara mencatatkan perjalanan pengabdian kepada masyarakat dalam bidang medis di Tano Niha; Pulau Nias. Khususnya di Kabupaten Nias Utara, wilayah yang lahir dari pemekaran Kabupaten Nias di tahun 2008. Beribukotakan Lotu, wilayah ini berada paling utara Pulau Nias dan berbatasan langsung dengan Samudera Hindia di sisi utara dan barat, yang memberikan anugerah berupa pantai-pantai indah berpasir putih dengan pohon-pohon nyiur di sepanjang sisi jalan yang dilewati.
Untuk menjangkau Kota Lotu, penerbangan yang dimulai dengan pesawat kecil dari Kota Medan, berakhir dengan sedikit mendebarkan sekaligus mengesankan di Bandara Binaka, Kawasan Gido, sekitar 30 menit berjarak dari Kota Gunungsitoli. Udara khas pulau menyambut dengan aroma laut yang samar dan hangat, berbaur wangi tanah tropis.
Perjalanan menuju Lotu dengan melintasi Kota Gunungsitoli dilanjutkan dengan mobil, menyusuri jalan beraspal yang membelah perkampungan-perkampungan kecil berpagar pohon kelapa, dengan rumah-rumah sederhana, ruko-ruko setengah permanen, bangunan tua atau rumah panggung yang lekat dengan arsitektur masa lampau.
Semakin jauh meninggalkan Kota Gunungsitoli, suasana menjadi lebih lengang. Jalanan yang dilalui tak melulu lurus, naik turun dan sesekali berkelok tajam mengikuti kontur pulau Nias yang berbukit-bukit, dengan panorama pantai di kanan kiri, suara ombak berdebur dan lembut angin laut, serta permukaan Samudera Hindia yang menghampar dan berkilauan diterpa cahaya mentari.

Bagi masyarakat Nias Utara, kesehatan dan infrastruktur adalah dua hal yang saling berkaitan erat. Sebelum berbagai pembangunan dilakukan dalam beberapa tahun terakhir, kondisi jalan antarwilayah yang belum sepenuhnya baik membuat sebagian warga harus menempuh perjalanan panjang untuk mencapai fasilitas kesehatan rujukan. Pada musim hujan, tantangan tersebut menjadi semakin berat karena beberapa ruas jalan mengalami kerusakan atau sulit dilalui.
Kondisi geografis yang tersebar juga memengaruhi akses terhadap tenaga medis spesialis. Banyak pasien yang sebelumnya harus dirujuk ke Kota Gunungsitoli atau bahkan ke Medan untuk memperoleh layanan kesehatan lanjutan. Konsekuensinya bukan hanya waktu tempuh yang panjang, tetapi juga biaya transportasi dan biaya hidup pendamping pasien yang tidak sedikit bagi keluarga dengan kemampuan ekonomi terbatas.
Tantangan Kompleks untuk PPDS
Bagi dr. Trinidia Lubis, M.Ked(OG), PPDS Fakultas Kedokteran USU yang baru usai menjalani masa residensi di Pulau Nias, suasana di kepulauan tersebut sangat mengesankan. Trinidia bersama beberapa temannya sesama PPDS FK USU ditempatkan pada wilayah yang berbeda. Ia bertugas di RS dr. M. Thomsen Gunungsitoli, rumah sakit rujukan utama di Kepulauan Nias. Sementara teman-temannya yang lain, dr. Ricky Bonatio Hutagalung, dr. Devinda Villarsi, dr. Edgar Anthony Petra Sihite dan dr. Margareth Duma Sari Sirait bertugas di RS Tafaeri, Lotu, Kabupaten Nias Utara. Selama tiga bulan, terhitung dari awal Maret 2026 lalu, mereka bertugas sebagai dokter spesialis yang menyandang nama Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Didampingi tim program studi dan fakultas, PPDS dari bidang Ilmu Penyakit Dalam, Obstetri dan Ginekologi, Anestesiologi dan Terapi Intensif, serta Patologi Klinik tersebut diserahterimakan ke rumah sakit penempatan masing-masing.
Untuk para dokter muda tersebut, bertugas di daerah kepulauan awalnya tentu menghadirkan bayangan yang sedikit mencemaskan.
Keterbatasan fasilitas, sulitnya komunikasi dengan pasien, hingga rendahnya pemahaman masyarakat terhadap layanan kesehatan modern, adalah bayangan yang berkecamuk di pikiran.
Namun kenyataan yang dihadapi di lapangan, justru tidak semenyeramkan itu.
“Tantangan bertugas di sini yang awalnya kami pikir akan sangat menyulitkan, ternyata tidak demikian. Ada beberapa kendala untuk komunikasi dengan para pasien yang umumnya menggunakan bahasa daerah, namun itu bisa diatasi dengan bantuan para perawat yang membantu menerjemahkan dan keluarga pasien yang cukup kooperatif,” tutur dr Trinidia, PPDS Obstetri dan Ginekologi (Obgyn) FK USU.
Para pasien lanjut usia umumnya memang hanya mampu berbahasa Nias dan tidak memahami bahasa Indonesia. Namun hambatan tersebut dapat diatasi berkat peran tenaga kesehatan setempat yang menjadi jembatan komunikasi antara dokter dan pasien.
Selama menjalani residensi, para dokter PPDS bertugas di berbagai unit pelayanan, mulai dari poliklinik, instalasi gawat darurat (IGD), hingga ruang operasi. Setiap tindakan medis yang mereka lakukan didokumentasikan sebagai bagian dari proses pendidikan spesialis yang menuntut pengalaman klinis dari berbagai variasi kasus.
Di RSUD dr. M. Thomsen Gunungsitoli, jumlah kasus yang ditangani pada bagian obgyn tergolong tinggi. Berdasarkan pernyataan dr Trinidia, dalam satu bulan rumah sakit ini dapat menangani sekitar 35 operasi sesar (Sectio Caesarea) dan tujuh hingga delapan tindakan histerektomi atau pengangkatan rahim. Padahal, dokter spesialis obstetri dan ginekologi yang bertugas hanya dua orang, dengan salah satunya yang telah mendekati masa pensiun. Kondisi tersebut tentu membuat kebutuhan akan tenaga dokter spesialis menjadi semakin mendesak.
Meski demikian, tantangan terbesar justru bukan dari banyaknya pasien yang harus ditangani, melainkan keterbatasan sistem penunjang pelayanan kesehatan. Di mana salah satu persoalan paling krusial adalah ketersediaan darah.
“Operasi obstetri itu sangat bergantung pada darah. Masalahnya, pelayanan bank darah tidak tersedia selama 24 jam. Setelah pukul 22.00 malam bank darah sudah tutup, padahal kasus gawat darurat bisa datang kapan saja. Sementara di RS Tafaeri Nias Utara, teman saya justru mengalami tantangan yang lebih besar, karena di sana tidak ada bank darah. Sehingga tindakan medis yang dilakukan harus benar-benar dipertimbangkan. Maka pasien dari Nias Utara sering harus dikirim ke Gunungsitoli karena ketiadaan darah,” imbuh dr Trinidia.
Dalam kondisi normal, keterbatasan tersebut mungkin tidak terlalu terasa. Namun bagi pasien yang mengalami perdarahan hebat saat persalinan, setiap menit menjadi penentu keselamatan jiwa. Keterbatasan juga dirasakan pada layanan penunjang diagnostik. Untuk pemeriksaan patologi anatomi, misalnya, rumah sakit belum memiliki dokter spesialis sehingga setiap sampel biopsi harus dikirim ke Medan.
Akibatnya, proses penegakan diagnosis penyakit, termasuk dugaan kanker, membutuhkan waktu lebih lama. Persoalan berikutnya muncul ketika pasien membutuhkan penanganan subspesialis yang belum tersedia di Pulau Nias.

Sebagai rumah sakit rujukan utama di kepulauan tersebut, RSUD dr. M. Thomsen kerap menghadapi dilema. Di satu sisi pasien membutuhkan tindakan medis lanjutan, namun di sisi lain fasilitas maupun tenaga subspesialis belum tersedia. Pilihan akhirnya adalah merujuk pasien ke Medan.
Namun bagi masyarakat kepulauan, proses rujukan bukanlah perkara sederhana. Selain biaya transportasi yang besar, pasien juga harus menempuh perjalanan laut atau udara dengan berbagai persyaratan administrasi. Bahkan, untuk menggunakan kapal atau pesawat, keluarga pasien masih harus mengurus surat keterangan yang menyatakan penyedia transportasi tidak bertanggung jawab apabila terjadi kondisi darurat selama perjalanan. Proses administrasi tersebut dapat memakan waktu dua hingga tiga hari.
“Kadang kami tahu pasien ini membutuhkan subspesialis. Tapi kami juga melihat kondisi ekonomi keluarganya. Untuk sampai ke Medan saja sudah menjadi beban besar, terlebih melanjutkan perjalanan melalui darat yang memakan waktu tidak sebentar,” terang Trinidia.
Tidak sedikit pula pasien yang datang dari Kabupaten Nias Utara. Menariknya, bukan karena daerah tersebut kekurangan dokter. Karena di RSUD Tafaeri Nias Utara sebenarnya telah ditempatkan dokter PPDS Obgyn dan Anestesi dari FK USU. Namun keterbatasan fasilitas, terutama belum tersedianya bank darah dan kemampuan ICU yang masih terbatas, membuat sebagian kasus harus dirujuk ke Gunungsitoli.
Selain itu, masih ada faktor kepercayaan masyarakat. Sebagian pasien memilih langsung menuju RSUD dr. M. Thomsen karena menganggap dokter yang baru bertugas di rumah sakit Tafaeri belum cukup berpengalaman. Dalam satu bulan, sekitar enam hingga tujuh pasien dirujuk dari Nias Utara ke RSUD dr. M. Thomsen. Bahkan, ada pula pasien yang datang langsung tanpa melalui mekanisme rujukan sesuai prosedur.
“Padahal dokter PPDS yang ditempatkan di sana juga kompeten. Tetapi persepsi masyarakat masih menjadi tantangan,” Trinidia mengisahkan ulang kendala yang dihadapi temannya yang bertugas di Nias Utara. (Bersambung)

Berita Lain
Bilal Mayyit Punya Peran Mulia
Rico Waas Dorong ASN Antar Anak di Hari Pertama Sekolah, Presensi Bisa dari Lokasi Sekolah
Rico Waas: Pembangunan Medan Butuh Sinergisitas, Pers Harus Hadirkan Jurnalisme Solutif