Menorehkan Jejak Pengabdian FK USU di Tano Niha, Memangkas Pemahaman Lama (2)

Share BerkabarMedan

Minim Darah
Dari seluruh pengalaman selama bertugas di Nias, ada satu kisah yang paling membekas di ingatan Trinidia. Ketika seorang ibu datang ke rumah sakit pada dini hari dalam kondisi syok akibat mengalami perdarahan pascapersalinan. Bayinya telah lahir sejak pukul 19.00 WIB, namun sang ibu tetap berada di rumah karena ditangani oleh seorang dukun beranak yang telah lama dipercaya keluarga. Ibu tersebut baru dibawa ke rumah sakit pada pukul 01.00 dini hari, tentu saja dalam kondisi yang sangat memburuk.


Saat tiba di IGD, tubuhnya telah pucat, tekanan darah tidak lagi dapat diukur, dan mengalami syok berat. Trinidia bersama tim medis lainnya segera melakukan tindakan penyelamatan. Luka berhasil ditangani. Sayangnya satu kebutuhan paling penting tidak tersedia; darah! Pelayanan darah telah tutup sejak pukul 22.00 WIB. Cairan infus memang dapat diberikan untuk mempertahankan sirkulasi sementara, tetapi pada kasus perdarahan masif, darah tetap menjadi satu-satunya terapi utama yang mampu menyelamatkan nyawa. Meski seluruh upaya telah dilakukan, pasien akhirnya tidak dapat diselamatkan.


“Bukan karena kami tidak melakukan tindakan. Tetapi karena pada kondisi seperti itu pasien membutuhkan transfusi darah secepatnya. Darah harus diganti dengan darah,” tandas Trinidia.


Kisah tersebut menjadi gambaran nyata bahwa tantangan pelayanan kesehatan di daerah kepulauan tidak hanya berkaitan dengan fasilitas medis, tetapi juga faktor sosial dan budaya. Kepercayaan masyarakat terhadap dukun beranak masih sangat kuat. Sebagian keluarga baru membawa pasien ke rumah sakit ketika seluruh upaya tradisional dianggap tidak lagi mampu membantu.Padahal, pada kondisi kegawatdaruratan obstetri, keterlambatan beberapa jam saja dapat menentukan hidup atau mati seorang ibu.


Bagi para dokter PPDS, tiga bulan bertugas di Pulau Nias bukan sekadar menjalani proses pendidikan spesialis. Mereka belajar bahwa menjadi dokter berarti memahami realitas masyarakat secara utuh, mulai dari keterbatasan infrastruktur kesehatan, tantangan geografis wilayah kepulauan, hingga nilai-nilai budaya yang masih hidup di tengah masyarakat.


Pengalaman tersebut sekaligus menegaskan bahwa peningkatan kualitas layanan kesehatan di daerah tidak cukup hanya dengan menghadirkan tenaga medis. Dibutuhkan penguatan fasilitas rumah sakit, ketersediaan layanan penunjang yang beroperasi 24 jam, sistem rujukan yang lebih cepat, serta edukasi berkelanjutan kepada masyarakat mengenai pentingnya persalinan yang aman di fasilitas kesehatan. Karena pada akhirnya, menyelamatkan nyawa tidak hanya bergantung pada kemampuan seorang dokter, tetapi juga pada hadirnya sistem pelayanan kesehatan yang mampu menjangkau setiap masyarakat, kapan pun mereka membutuhkan.


Kerja Sama FK USU dan Kabupaten Nias Utara
Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (FK USU) dan Pemerintah Kabupaten Nias Utara telah resmi menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) pada awal Maret 2026 sebagai tindak lanjut dari nota kesepahaman (MoU) yang telah ditandatangani sebelumnya. PKS tersebut menegaskan komitmen USU dalam mendukung program pemerintah, khususnya program Kementerian Kesehatan RI dan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dalam pengembangan pelayanan kesehatan di daerah tertinggal dan kepulauan, termasuk Pulau Nias.


Salah satu bentuk komitmen tersebut adalah pemberian prioritas kepada dokter putera asli daerah yang berkomitmen mengabdi kembali di Nias untuk mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di FK USU dengan pembiayaan dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.

Program ini telah berjalan selama satu tahun dan hingga saat ini FK USU telah menerima tujuh dokter putera asli Nias, empat di antaranya berasal dari Nias Utara yang mengambil program spesialisasi di bidang Ilmu Penyakit Dalam, Ilmu Bedah, Anestesiologi dan Terapi Intensif, serta Radiologi. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat peningkatan akses layanan kesehatan spesialis di Kabupaten Nias Utara.


Saat ini Nias Utara memiliki 11 puskesmas rawat inap yang tersebar di seluruh kecamatan dan satu rumah sakit daerah, yaitu RSUD Tafaeri yang menjadi pusat rujukan pelayanan kesehatan kabupaten. Namun tantangan ketersediaan tenaga kesehatan masih menjadi pekerjaan rumah, yang belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan seluruh wilayah.


Karena itu, kehadiran layanan spesialis di RSUD Tafaeri memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar penambahan jenis pelayanan. Kehadiran dokter spesialis berarti memangkas jarak, mengurangi biaya pengobatan, mempercepat penanganan pasien, dan meningkatkan peluang kesembuhan masyarakat.


Di Nias Utara, jarak tidak hanya diukur dalam kilometer. Ia dihitung dari berapa lama seorang ibu hamil harus menempuh perjalanan menuju rumah sakit, berapa biaya yang harus dikeluarkan keluarga untuk menemani anggota keluarganya berobat, dan seberapa cepat ambulans dapat mencapai desa-desa yang tersebar di antara bukit dan garis pantai. Karena itu, ketika layanan dokter spesialis mulai hadir lebih dekat melalui RSUD Tafaeri, yang datang bukan hanya pelayanan kesehatan, namun sebuah harapan baru bagi ribuan warga di ujung utara Pulau Nias.


Dalam konteks itulah kerja sama antara Fakultas Kedokteran USU dan Pemerintah Kabupaten Nias Utara menjadi sangat strategis. Kehadiran dokter residen, penguatan kapasitas tenaga kesehatan lokal, hingga program pendidikan dokter spesialis bagi putra-putri daerah merupakan investasi jangka panjang untuk membangun kemandirian layanan kesehatan di kawasan kepulauan tersebut.


Pengabmas dengan Antrian Mengular
FK USU bersama RSUD Tafaeri dan Dinas Kesehatan Kabupaten Nias Utara sebelumnya juga telah melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang berlangsung di RSUD Tafaeri Desa Lolofaoso, Kecamatan Lotu, Kabupaten Nias Utara, pada Maret 2026 lalu. Pengabmas yang dilakukan oleh para dosen FK USU tersebut meliputi pemeriksaan antenatal dan ultrasonografi (USG) bagi ibu hamil, pemeriksaan/skrining batu empedu, pemeriksaan pemeriksaan Hb dan KGD sewaktu bagi masyarakat, serta pelatihan kegawatdaruratan bagi tenaga kesehatan RSUD Tafaeri. Kegiatan tersebut disambut antusias oleh masyarakat yang memenuhi ruang-ruang pelayanan yang tersedia, bahkan meluber hingga memenuhi sepanjang koridor rumah sakit. Ini merupakan pelayanan yang sangat jarang mereka dapatkan, sehingga tak mungkin dilewatkan dengan percuma.


Implementasi salah satu tri darma perguruan tinggi tersebut , selain menghadirkan dr Inke Nadia Diniyanti Lubis, PGDip PID FAAET, M.Ked(Ped), Sp.A, Ph.D , juga beranggotakan Dr rer medic dr M Ichwan, M.Sc, Sp.KKLP, Subsp.FOMC, Dr dr Taufik Sungkar, M.Ked (PD), Sp.PD, Subsp, GEH (K), dr Andriamuri Primaputra Lubis, M.Ked (An), SpAn-TI, Subsp TI (K), dr Nindia Sugih Arto, M.Ked(Clin.Path) Sp.P.K. Subsp.N.R. (K), dr Iman Helmi Effendi, M.Ked (OG), Sp.OG (K), dr Malayana Rahmita Nasution, M.Ked (Clin.Path) Sp.P.K. Subsp.H.K. (K), serta para dokter residen USU.


Kegiatan yang berlangsung dari pagi hingga menjelang sore hari tersebut sukses melayani 23 orang pasien untuk bagian obstetri dan ginekologi, 114 orang pada pelayanan penyakit dalam dan 80 orang di bagian patologi klinik. Pada pelayanan di bagian penyakit dalam keluhan masyarakat yang berobat umumnya untuk penyakit diabetes mellitus, hipertensi, dyspepsia, hiperkolesterolemia, osteoarthritis, penyakit saluran nafas, cholelithiasis (batu empedu), nefrolithiasis (batu ginjal), hipertiroid (penyakit tiroid) dan gastroeosophageal reflux disease (GERD).


Dr. dr. Taufik Sungkar, M.Ked (PD), Sp.PD, Subsp, GEH (K), memberikan edukasi kepada masyarakat terkait pengenalan gejala penyakit batu empedu dan tindak pencegahan komplikasinya. Respon masyarakat dalam sesi edukasi sangat antusias, khususnya untuk mengetahui lebih jauh mengenai penyakit batu empedu. Hal itu dibuktikan pada saat tanya jawab di mana banyak masyarakat yang mengajukan pertanyaan mengenai penyakit batu empedu. Bahkan terdapat beberapa gejala penyakit yang mereka curigai sebagai penyakit batu empedu, meski sebagian besar terbantahkan setelah melalui pemeriksaan medis dengan jumlah pasien yang mengular.


“Pada saat mereka tahu bahwa di RSUD Tafaeri telah ada dokter spesialis penyakit dalam, mereka sangat gembira dan merasa sangat terbantu untuk datang berobat. Selama ini akses untuk dapat berobat ke dokter spesialis penyakit dalam cukup terbatas, karena pelayanan dokter spesialis penyakit dalam hanya satu kali dalam seminggu,” ungkap Dr Taufik.

Ia berharap, melalui edukasi yang diberikan, masyarakat dapat terbantu untuk mengenali faktor penyebab, gejala dan tindak pencegahan yang dapat dilakukan sejak dini.


Dalam pengabdian masyarakat tersebut juga diberikan pelatihan kegawatdaruratan bagi tenaga kesehatan RSUD Tafaeri, yang diikuti oleh para perawat dan dokter umum di RSUD dan puskesmas se-Nias Utara, yang dimentori oleh dr. Andriamuri Primaputra Lubis, M.Ked (An), SpAn-TI, Subsp TI (K). Pelatihan tersebut membahas tentang Early Warning Score (EWS) dan Bantuan Hidup Dasar (BHD), yang bertujuan memberikan pelayanan survival maksimal dan antisipasi perburukan klinis bagi pasien.


Dr. Inke Nadia selaku ketua kegiatan menegaskan, tujuan dari digelarnya pengabdian masyarakat tersebut untuk memperkenalkan kepada masyarakat Nias Utara, di mana saat ini pelayanan kesehatan di RSUD Tafaeri tidak lagi hanya sebatas dokter spesialis anak, tetapi juga sudah didukung oleh tenaga kesehatan dari fakultas kedokteran USU, yang mencakup spesialis penyakit dalam, anestesi, obstetri dan ginekologi serta patologi klinik.


“Kami tidak hanya langsung turun untuk memberikan pelayanan kesehatan, melainkan juga memberikan promosi untuk rumah sakit, sehingga operasional RSUD Tafaeri dapat terus berlangsung dengan animo yang semakin meningkat dari masyarakat,” tandas dr. Inke.


Ia juga mengharapkan kepada semua dokter residen FK USU yang ditempatkan di rumah sakit, agar dapat terus melakukan capacity building, termasuk dalam bentuk pengabdian masyarakat dari FK USU. “Para dokter residen harus bisa melatih tenaga kesehatan baik yang ada di RSUD maupun puskesmas, sehingga keterampilan mereka bisa bertambah dan memberikan kualitas pelayanan yang lebih baik bagi masyarakat,” imbuhnya.


Kerja Belum Selesai
Bagi Fakultas Kedokteran USU, perjalanan dan pengabdian masyarakat ke Nias Utara ini bukanlah akhir. Menukil penyair Indonesia ternama dalam selarik syairnya, “Kerja belum selesai, belum apa-apa”. Masih ada episode dan rencana-rencana lanjutan yang akan diwujudkan untuk memaksimalkan kerja sama dan layanan kesehatan bagi masyarakat di wilayah tersebut.

Pun demikian halnya bagi Pemerintah Kabupaten Nias Utara dan masyarakatnya, yang memandang kerja sama ini sebagai pintu masuk bagi layanan kesehatan yang lebih mumpuni, keberadaan dokter spesialis yang lebih banyak, penguatan kapasitas tenaga kesehatan dan komitmen untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.


Di ujung utara Pulau Nias, sebuah pesan sederhana kembali ditegaskan: bahwa pembangunan kesehatan bukan hanya soal gedung dan peralatan, melainkan tentang menghadirkan harapan, menjaga kehidupan, dan memastikan tidak ada masyarakat yang tertinggal dalam memperoleh layanan kesehatan yang layak.