BerkabarMedan – Setiap hari, Zulkifli Nasution mengumpulkan barang bekas untuk memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus membiayai pendidikan anaknya hingga perguruan tinggi. Sebagai tukang botot di Medan, ia harus berjuang dengan penghasilan tak menentu, sementara biaya kuliah bukan tanggungan ringan.
“Dengan adanya bantuan ini, sangat membantulah kami yang masyarakat menengah ke bawah. Kalau enggak ada ini, sudah tersengap-sengap bahasa kasarnya,” ungkap Zulkifli penuh haru.
Bantuan biaya pendidikan Pemko Medan melalui Dinas Sosial meringankan beban keluarga prasejahtera dalam membiayai kuliah anak. Bagi Zulkifli, dukungan tersebut membantu menjaga harapan agar pendidikan anaknya terus berlanjut di tengah keterbatasan ekonomi.
Harapan serupa dirasakan Maisyarah, warga Kecamatan Medan Timur. Anaknya, Norah Hanifa, kini duduk di semester V Program Studi Manajemen Dakwah, Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU). Bantuan yang akhirnya diterima itu sangat berarti, terutama untuk membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT).
“Saya pribadi merasa sangat senang menerima bantuan ini. Tidak bisa terbilanglah senangnya. Bantuan ini sangat membantu, terutama untuk membayar uang UKT anak,” kata Maisyarah.
Maisyarah berharap kuota penerima bantuan ditambah agar semakin banyak mahasiswa dari keluarga kurang mampu mendapat kesempatan serupa. Ia juga berharap pemerintah dapat menyediakan fasilitas pembelajaran, seperti laptop atau tablet, yang dibutuhkan mahasiswa untuk mengerjakan tugas kuliah.
Manfaat bantuan itu turut dirasakan Afriza Yenni Nasution, mahasiswa Program Studi Perbandingan Mazhab, Fakultas Syariah dan Hukum UINSU. Ia menerima bantuan melalui Dinas Sosial Kota Medan dan mengaku bangga mendapat kesempatan tersebut.
Menurut Afriza, kondisi ekonomi keluarga menjadi salah satu pertimbangan penting dalam menentukan penerima bantuan, di samping prestasi akademik. Ia berharap program tersebut terus berlanjut agar mahasiswa lain yang menghadapi keterbatasan ekonomi juga dapat melanjutkan pendidikan.
“Harapan saya, semoga program ini terus berjalan ke depannya dan bisa membantu kawan-kawan mahasiswa lainnya untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi,” ujarnya.
Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas mengatakan bantuan tersebut merupakan bentuk dukungan pemerintah untuk memotivasi mahasiswa menyelesaikan pendidikan tinggi, memperoleh pekerjaan yang layak, serta meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Saat menyerahkan bantuan di Hotel Grand Kanaya, Jumat (23/10/2026), Rico Waas meminta para penerima memanfaatkan dana tersebut sebaik-baiknya untuk menunjang kebutuhan pendidikan dan semakin giat menuntut ilmu.
“Ini dari masyarakat untuk masyarakat. Dana yang kita kumpulkan dari pajak masyarakat dikembalikan lagi kepada masyarakat,” tegas Rico Waas.
Pada Tahun Anggaran 2026, sebanyak 214 mahasiswa dari keluarga prasejahtera di Kota Medan menerima bantuan biaya pendidikan melalui Dinas Sosial Kota Medan. Besaran bantuan bervariasi, maksimal Rp6 juta per mahasiswa setiap semester.
Penerima bantuan berasal dari keluarga kategori Desil 1 hingga Desil 5. Mahasiswa perguruan tinggi negeri (PTN) disyaratkan memiliki indeks prestasi kumulatif (IPK) minimal 3,00, sedangkan mahasiswa perguruan tinggi swasta (PTS) minimal 3,25.
Bagi Zulkifli, hasil mengumpulkan barang rongsokan setiap hari bukan sekadar untuk menyambung hidup. Di balik pekerjaan itu, ada harapan agar anaknya bisa menyelesaikan pendidikan tinggi dan meraih masa depan yang lebih baik.

Berita Lain
Tepati Janji, Rico Waas Berikan Laptop untuk Angela, Semangat Baru untuk Kuliah
Komitmen Keterbukaan Informasi, Rico Waas Raih Penghargaan Achievement Person KI Sumut Award 2026
Dukung Pemko Medan Raih Predikat Informatif, Kadis Kominfo Arrahmaan Pane Terima Penghargaan KI Sumut