Rico Waas Terima Penabalan Marga Ginting Suka

Share BerkabarMedan

BerkabarMedan – Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas bersama Ketua TP PKK Kota Medan Airin Rico Waas dijadwalkan menerima penabalan marga Karo dalam rangkaian acara Mburo Ate Tedeh pada 7 November 2026 mendatang. Dalam prosesi adat yang digelar di Gedung TP PKK Kota Medan tersebut, Rico Waas akan ditabalkan menjadi marga Ginting Suka bere-bere Tarigan, sementara Airin menjadi Beru Sembiring Pelawi.

Hal ini terungkap dalam audiensi Panitia Mburo Ate Tedeh sekaligus Penabalan Marga Wali Kota Medan dengan Rico Waas di Balai Kota Medan, Senin (6/10/2026). Dalam pertemuan tersebut, panitia menyampaikan rangkaian kegiatan yang akan dikemas dengan berbagai unsur adat dan budaya Karo.

Ketua Panitia Mburo Ate Tedeh sekaligus Penabalan Marga Wali Kota Medan Muhammad Edison Ginting mengatakan, prosesi penabalan akan menjadi bagian dari rangkaian budaya Karo yang ditampilkan dalam acara tersebut. Selain penggunaan alat musik tradisional dan prosesi adat, kegiatan juga akan diisi adu pengantin yang melibatkan tarian dan nyanyian serta manuk sangka atau makan nasi bersama.

“Penabalan marga Wali Kota menjadi Ginting Suka bere-bere Tarigan, sedangkan Ketua TP PKK Kota Medan menjadi Beru Sembiring Pelawi,” jelas Ginting.

Ginting hadir bersama sejumlah panitia, yakni Harry Indrawan Tarigan selaku Sekretaris Panitia, Gema Halelu Isa Meliala selaku Bendahara, serta Terkelin Eritha Br Tarigan, Asem Menitha Br Tarigan, Mikhawati Tarigan, Epta Riana Br Tarigan dan Hendra Tarigan.

Bagi Rico Waas, penabalan marga tersebut bukan sekadar sebuah kehormatan. Di balik marga yang akan disandangnya, ia melihat ada amanah untuk mengenal, menjaga sekaligus memperkenalkan budaya Karo lebih luas.

Rico Waas mengaku bangga dan berterima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepadanya untuk menjadi bagian dari keluarga besar masyarakat Karo. Namun, ia menyadari penabalan tersebut juga membawa tanggung jawab untuk memberikan perhatian terhadap pemberdayaan masyarakat Karo sekaligus ikut memperkenalkan kebudayaannya kepada masyarakat yang lebih luas.

“Ini bukan hanya soal penabalan marga. Ada tanggung jawab khusus setelah saya ditabalkan, bagaimana saya memberikan perhatian terhadap pemberdayaan masyarakat Karo dan ikut mempromosikan kebudayaan Karo ke kancah nasional,” kata Rico Waas.

Ia pun ingin memahami lebih jauh budaya yang menyertai marga tersebut. Mulai dari sejarah, bahasa, adat istiadat, musik tradisional hingga berbagai tradisi Karo yang diwariskan secara turun-temurun.

“Saya ingin bukan hanya melihat, tetapi juga memahami. Karena bahasa dan budayanya berbeda, kita harus bisa menjelaskan mengenai suku Karo. Itu menjadi bagian dari tanggung jawab saya,” ungkapnya.

Rico Waas berharap penabalan marga tersebut semakin mempererat hubungan kekerabatan dirinya dengan keluarga besar masyarakat Karo. Ia ingin marga yang diberikan tidak berhenti sebagai identitas, tetapi menjadi jembatan untuk menghadirkan manfaat bagi masyarakat, khususnya masyarakat Karo di Kota Medan.

Ia juga menegaskan agar penabalan marga tersebut tidak dipandang dari sisi kepentingan politik. Menurutnya, momentum tersebut lebih tepat dimaknai sebagai bagian dari kekerabatan serta penghormatan terhadap adat dan budaya Karo.

“Bangga hati saya diberikan marga. Mudah-mudahan dengan adanya penabalan ini ada manfaatnya. Jangan sampai hanya terkesan melekatkan nama atau untuk kepentingan politik. Saya ingin ini menjadi bagian dari kekerabatan dan memberikan manfaat bagi masyarakat Karo, khususnya di Kota Medan,” ujarnya.

Ginting menambahkan, kegiatan Mburo Ate Tedeh sekaligus penabalan marga tersebut sejalan dengan konsep “Medan untuk Semua”. Keberagaman suku dan budaya, katanya, menjadi bagian dari identitas Kota Medan yang sejak dahulu menjadi ruang perjumpaan berbagai kelompok masyarakat.

Karena itu, kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi agenda internal masyarakat Karo, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkenalkan kekayaan budaya Karo, memperkuat kekerabatan serta membangun kebersamaan dan kolaborasi antarsuku di Kota Medan.

Tokoh masyarakat Karo Roy Fakhrabi mengatakan, kegiatan tersebut sekaligus dirancang untuk memperkenalkan eksistensi masyarakat Karo di Kota Medan dan memperkuat hubungan antarsuku. Sejumlah kepala daerah, tokoh masyarakat dan tokoh adat juga direncanakan hadir dalam kegiatan tersebut.